SMP Negeri 1 Batang

smpn1-batang.blogspot.com

SMP Negeri 1 Batang

smpn1-batang.blogspot.com

SMP Negeri 1 Batang

smpn1-batang.blogspot.com

SMP Negeri 1 Batang

smpn1-batang.blogspot.com

SMP Negeri 1 Batang

smpn1-batang.blogspot.com


Selamat Datang di SMP Negeri 1 Batang
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

18 Maret 2019

SIMULASI UNBK 2019

SMP Negeri 1 Batang melaksanakan kegiatan pra UNBK sebanyak 3 kali, yaitu Simulasi-1 UNBK, Simulasi-2 UNBK, dan Gladi Bersih UNBK. Dengan demikian diharapkan siswa semakin siap dari sisi mental maupun skill dalam mengerjakan ujian berbasis komputer.
Jumlah peserta ujian tahun ini adalah 217 siswa, sehingga harus dilaksanakan dengan 3 sesi di masing-masing Lab Komputer 1 dan Lab Komputer 2 yang terdapat 80 unit komputer client.


21 Juli 2016

Hari Jadi ke-56 SMP Negeri 1 Batang

SMP Negeri 1 Batang didirikan pada tanggal 1 Agustus 1960 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (saat itu masih bernama Menteri Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan) No. 187/S.K/B/III. Sebelum terbitnya SK tersebut SMP Negeri 1 Batang merupakan sekolah dengan nama SGB (Sekolah Guru-B) Negeri di Batang. SGB seluruh Indonesia mulai tahun ajaran 1958/1959 tidak menerima lagi murid kelas 1, sebagai gantinya menerima murid SMP Negeri. Akhirnya pada 1 Agustus terbit SK Menteri tersebut yang merubah SGB Negeri menjadi SMP Negeri, termasuk SMP Negeri Batang (kini SMP Negeri 1 Batang). Dari sinilah akhirnya setiap tanggal 1 Agustus dijadikan hari lahir SMP Negeri 1 Batang.

Logo HUT ke56 SMP Negeri 1 Batang

2 September 2015

UKG 2015

Uji Kompetensi Guru

 
Guru memiliki posisi strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pencanangan guru sebagai profesi oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 4 Desember 2004, memperkuat peran guru dalam pelaksanaan pendidikan. Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dilaksanakan bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat.
Berkaitan dengan program tersebut, pemetaan kompetensi yang secara detail menggambarkan kondisi objektif guru dan merupakan informasi penting bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait dengan materi dan strategi pembinaan yang dibutuhkan oleh guru. Peta guru tersebut dapat diperoleh melalui uji kompetensi guru (UKG). Sasaran program strategi pencapaian target RPJMN tahun 2015–2019 antara lain adalah meningkatnya kompetensi guru dan tenaga kependidikan dilihat dari Subject Knowledge dan Pedagogical Knowledge yang diharapkan akan berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Oleh karena itu untuk mengukur capaian RPJMN, maka pada tahun 2015 UKG akan dilaksanakan bagi seluruh guru di Indonesia.
Pedoman pelaksanaan dapat didownload disini
Untuk melihat data peserta dapat melalui link Info GTK
Hasil UKG tahun 2015 ini akan diintegrasikan dengan program Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009 sebagai persyaratan kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru. Pengembangan keprofesian berkelanjutan dikoordinasikan oleh PPPPTK berdasarkan identifikasi peta kompetensi guru yang diketahui dari hasil UKG . UKG ini akan menjadi agenda rutin bagi guru untuk mengetahui level kompetensi guru sebagai bahan pertimbangan kegiatan peningkatan profesi guru. Dengan demikian, guru nantinya diharapkan tidak resisten terhadap UKG dan akan menjadi terbiasa selalu ingin mengetahui level kompetensi melalui UKG dan senantiasa menginginkan kompetensinya untuk diukur secara berkala.
Hasil UKG ini selain digunakan sebagai dasar dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan dan penilaian kinerja guru, digunakan juga sebagai informasi awal untuk menganalisis lembaga pendidikan guru. Untuk itu, sistem dan mekanisme pelaksanaan UKG akan disempurnakan dan dikembangkan secara terus menerus guna memberikan kontribusi dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan pendidikan.  




sumber: http://gtk.kemdikbud.go.id/post/uji-kompetensi-guru

27 Mei 2015

Juara FLS2N Kab. Batang

SMP 1 Batang berhasil meraih dua piala dalam pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kabupaten Batang 2015. Dua piala tersebut diraih Adinda Rahayu Handayani yang merebut juara I lomba baca puisi dan Erna Puspitasari yang meraih juara II lomba penulisan cerita pendek. Kepala SMP 1 Batang M Toha Mustofa mengatakan, SMP 1 Batang sudah beberapa tahun ini selalu meraih piala dalam kejuaraan yang berkaitan dengan bahasa dan sastra, termasuk melalui ajang FLS2N 2015. ”Kami bersyukur, tahun ini SMP 1 Batang bisa kembali meraih prestasi pada FLS2N. Ini tidak lepas dari dukungan, doa restu semua komponen sekolah,” ujar Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah menjelaskan, persiapan yang matang menjadi kunci kesuksesan untuk meraih prestasi yang membanggakan itu. Bukti dari hasil latihan yang intensif, beberapa tahun terakhir ini SMP1 Batang telah menorehkan prestasi di FLSN Tahun 2011 meraih juara I lomba menulis cerpen. Pada 2012, di ajang Pesta Buku Nasional berhasil meraih dua piala, yakni juara I dan III lomba baca puisi. Pada tahun yang sama, juga meraih juara III lomba penulisan puisi dalam rangka HUT Kabupaten Batang serta juara I menulis cerpen di FLS2N Kabupaten Batang. ”Pada 2013, pada acara Semarak Buku Nasional, SMP1 Batang juga berhasil membawa dua piala lomba baca puisi yaitu juara I dan juara III. Selain itu, pada Hari Jadi Ditlantas 2013, SMP 1 Batang juga berhasil meraih juara II tingkat Provinsi di Polda Jateng.
Selain baca tulis puisi dan menulis cerpen, semangat mendapatkan prestasi juga ditunjukan siswa SMP 1 Batang pada lomba berpidato. Seperti mampu meraih juara I sampai dua kali di ajang MAPSI dan Pentas PAI. 
Adinda Rahayu Handayani meraih Juara 1 Baca Puisi
FLS2N SMP Kab. Batang

14 Juni 2014

PENGUMUMAN KELULUSAN 2013/2014

Prosentase kelulusan SMP Negeri 1 Batang pada Tahun Pelajaran 2013/2014 ini adalah lulus 100% dan peringkat 2 (dua) tingkat SMP Negeri/Swasta se-Kabupaten Batang. Demikian hasil dari pengumuman kelulusan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Juni 2014 pukul 15.00 WIB.
Adapun peringkat siswa untuk Nilai Ujian Nasional di SMPN 1 Batang adalah sebagai berikut:
1. Ulfa Afilia Shofa : 37,20
2. Indy Maulida : 37,05
3. Lendy Fathmi Lia Syahputri : 36,90












7 Juni 2014

Implementasi Kurikulum 2013

Dukung Implementasi Kurikulum 2013, Gubernur Jawa Tengah Keluarkan Surat Edaran

08-01Dukung Implementasi Kurikulum 2013, Gubernur Jawa Tengah Keluarkan Surat EdaranSemarang, Kemdikbud — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tegaskan dukungannya untuk implementasi Kurikulum 2013 melalui surat edaran Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, kepada Bupati dan Walikota se- Jawa tengah. Surat edaran bernomor 420/002309 tersebut diterbitkan pada tanggal 12 Februari 2014, dan merujuk kepada surat edaran bersama Menteri Dalam Negeri RI, Gamawan Fauzi, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Mohammad Nuh, Nomor 420/175/SJ dan Nomor 0259/MPK.A/PD/2014, diterbitkan pada tanggal 9 Januari 2014 perihal implementasi kurikulum 2013.
Disampaikan dalam surat edaran kepada para Bupati dan Walikota se-Jawa Tengah tersebut bahwa implementasi kurikulum 2013 merupakan kebijakan pendidikan yang ditetapkan secara nasional sehingga wajib dilaksanakan oleh semua tingkatan pemerintahan. Dalam pelaksanaan kebijakan, surat edaran tersebut menekankan untuk segera ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.
Untuk mendukung ketercapaian target dalam penyediaan buku kurikulum 2013, surat edaran gubernur tersebut menjelaskan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada semester satu, dan Dana Alokasi Khusus (DAK) pda semester dua, untuk itu gubernur meminta kepada para bupati dan walikota se-Jawa Tengah melakukan pengendalian pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Melalui surat edaran tersebut, gubernur meminta agar penyelenggaraan kebijakan tersebut memberikan hasil guna dan daya guna dalam peningkatan mutu pendidikan, para bupati dan walikota melakukan pengawasan sejak saat perencanaan. Gubernur juga meminta agar para bupati dan walikota menyampaikan laporan komprehensip secara berkala atas pelaksanaan kebijakan impelementasi kurikulum 2013.
Surat edaran Gubernur Jawa Tengah ditembuskan juga kepada Menteri Dalam Negeri RI, Menteri Pendidikandan Kebudayaan RI, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Inspektur Provinsi Jawa Tengah, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah. (Seno Hartono)
Sun, 06/08/2014 – 15:04
Repro: kemdikbud.go.id

21 September 2012

Search Engine referensi ilmiah


Garuda (Garba Rujukan Digital) adalah portal penemuan referensi ilmiah dan umum karya bangsa Indonesia, yang memungkinkan akses e-journal dan e-book domestik, tugas akhir mahasiswa, laporan penelitian, serta karya umum. Portal ini dikembangkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Dikti - Kemdiknas RI.
Link : GARUDA




5 Maret 2012

Pemanfaatan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar

Keberadaan perpustakaan sekolah saat ini menjadi sangat penting dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum tahun 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyiratkan perlunya peningkatan peran perpustakaan sekolah sebagai penunjang kegiatan belajar siswa dan guru. Kurikulum tingkat satuan pendidikan menuntut guru untuk lebih aktif dalam mengembangkan pembelajaran khususnya dalam mengembangkan indikator pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu pada setiap satuan unit sekolah perlu didukung adanya perpustakaan yang mampu berfungsi dengan baik.
Pemanfaatan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar dan menjadi sarana pendukunrg proses KBM tersebut juga sudah diterapkan di SMP Negeri 1 Batang. 

Pemanfaatan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar.


SMP Negeri 1 Batang
Posting oleh : Rudy DM

16 November 2011

Internet Sebagai ‘Pusat Layanan Sumber Belajar’

‘Era internet telah mengubah banyak hal. Arus informasi yang begitu deras disertai pertukaran pesan yang begitu massif menjadikan dunia seolah tanpa batas. Internet telah menjadikan banyak orang tak ubahnya hidup di kampung global (global village).  Sebagai teknologi informasi yang mampu menjembatani beragam urusan, internet juga makin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa makin bergantung pada internet.’

Beragam hal dicari dan dilakukan dengan media internet. Mulai dari sekadar browsing, mengobrol (chatting), mengunduh data, gambar, lagu, hingga perangkat lunak (downloading), mengirim pesan melalui e-mail, hingga bermain game on line. Tidak hanya itu, internet juga menghubungkan banyak orang ke dalam komunitas maya melalui media sosial (social media) seperti Facebook, Twitter, Friendster, dan lainnya.

Internet juga memunculkan cara pandang baru dalam melakukan aktivitas harian. Pedagang dan pembeli kini tidak harus bertemu langsung. Sebab, ada fitur layanan bernama e-commerce. Perdagangan barang melalui dunia maya ini makin marak seiring makin amannya bertransaksi melalui internet. Para siswa kini juga tidak harus mendatangi perpustakaan untuk mendapatkan bahan bacaan. Berkat jasa besar dari mesin pencari (search engine) seperti Google, para siswa cukup berselancar untuk mendapatkan beragam informasi melalui internet. Inilah yang kemudian mendorong munculnya e-education.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa internet telah menjadi sumber informasi. Internet adalah pusat informasi yang multi bidang. Semua aspek kehidupan baik yang berdampak positif maupun negatif dapat diakses dan diperoleh dari internet. Karenanya, pemanfaatan internet untuk pendidikan menjadi makin penting guna mengarahkan siswa atau peserta didik agar menjadikan media tersebut secara positif.

Popularitas e-education terus naik seiring makin akrabnya kalangan pendidik untuk memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Kondisi tersebut juga didukung oleh makin banyaknya laman internet yang menyediakan layanan e-education. Situs e-education ini ada yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) maupun pihak swasta yang memiliki perhatian khusus untuk mengembangkan layanan pendidikan virtual berbasis internet.

Pemanfaatan internet sebagai Pusat sumber belajar juga sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan yang terjadi saat ini. Dulu, guru menjadi pusat instruksi (teacher-centered instruction). Kini, kondisinya berubah menjadi siswa yang menjadi pusat instruksi (student- centered instruction). Dahulu, guru berperan besar mengantarkan pesan kepada siswanya. Sekarang, justru dikembangkan pertukaran pesan antara guru dengan siswa dalam membahas materi pelajaran. Perubahan paradigma ini juga dipengaruhi lahirnya teknologi multimedia yang mengganting cara pengajaran lama yang hanya bermedia tunggal (single media).

Era multimedia yang masuk ke ruang-ruang kelas telah menggeser papan tulis dengan monitor komputer. Melalui monitor komputer yang terkoneksi internet, guru dan siswa bisa menggali materi pengajaran dalam bentuk teks, visual, dan audio. Pelan namun pasti, guru dan siswa makin intensif berinteraksi dan mempertukarkan isi pikirannya. Interaksi maupun dialog antara guru dengan siswa semacam ini dahulu sulit terjadi. Penyebabnya, sang guru sibuk menuliskan materi ajar di papan tulis dan para siswa menuliskannya di buku.

Era Multimedia
Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar bisa dipilah ke dalam 3 (tiga) tingkatan yakni: sederhana, menengah, dan tinggi. Pada tingkat sederhana, unsur pembelajaran masih didominasi tatap muka. Hanya saja, guru menyisipkan materi berupa file yang berbentuk soft copy  baik itu pdf, video, doc, dan lainnya sebagai bahan belajar mandiri. Penugasan dari guru juga sudah mulai dikumpulkan menggunakan email.

Untuk tingkatan menengah, unsur tatap muka mulai dikurangi prosentasenya, beberapa materi diunggah (upload) di dunia maya. Guru juga menyediakan referensinya. Tugas-tugas bagi siswa sudah diberikan melalui internet melalui saluran e-mail, blog, dan lainnya. Para siswa juga diharuskan mengumpulkan tugas-tugas tersebut lewat internet.

Pada tingkat tinggi, penggunaan internet oleh guru dan siswa sudah makin optimal. Di sini, guru dan siswa berinteraksi melalui Learning Management System (LMS). Melalui LMS, proses pembelajaran sudah berada di dunia maya secara penuh. Distribusi materi pembelajaran, bimbingan dan penugasan sudah sepenuhnya menggunakan sarana LMS tersebut. Peran guru hanya sebagai sutradara di dunia maya.

Di masa mendatang, pemanfaatan LMS sebagai sarana pembelajaran akan semakin meluas. Hal ini tentu saja akan sangat membantu tugas para guru dalam mendidik siswanya. Namun, pertemuan tatap muka di kelas tetap harus ada sebagai bentuk kendali antara pendidik dengan siswa yang dididik. Sebab, penggunaan LMS tidak lantas menjadikan para siswa mandiri secara penuh. Pada tahap inilah, pihak sekolah serta guru harus mampu mengelola waktu dan metode pengajaran yang dinilai bisa menguntungkan siswa. Jangan sampai, pemanfaatan internet sebagai sumber belajar malah menjadikan para guru enggan atau kesulitan berinteraksi dengan siswanya secara verbal di depan kelas.

Penting untuk disadari bahwa keberadaan internet maupun LMS hanyalah sebagai pendukung dalam aktivitas pembelajaran dan pengajaran. Sebagai makhluk sosial, guru maupun siswa tetap harus memiliki ruang dan waktu untuk saling berinteraksi secara tatap muka. Pemanfaatan internet sebagai Pusat sumber belajar juga bisa diartikan sebagai perluasan daya jangkau manusia (the extension of man). Jadi, melalui internet jarak yang jauh bisa didekatkan, dan beragam aneka sumber bisa di ‘collect’ dengan mudah serta tugas-tugas bagi siswa bisa didistribusikan secara personal dan mekanisme penilaian atas tugas juga bisa lebih cepat diselesaikan.

Sejalan dengan hal di atas, para guru tetap dituntut profesional dalam menjalankan tugasnya. Dengan internet, para guru diharapkan mampu mentransfer ilmu lebih efektif dan efesien kepada para siswanya. Dengan begitu, tujuan mulia pendidikan akan tercapai dengan waktu relatif singkat tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal. Guna mewujudkan hal tersebut, ada sejumlah tips yang bisa dijadikan pegangan bagi para guru yakni:

  • Buatlah jadwal khusus untuk bermain internet. Jadwal akan memaksa kita untuk melakukan suatu kegiatan menjadi seefektif dan seefisiensi mungkin serta mengurangi perilaku negatif yang akan membuat jadwal internet kita menjadi membengkak.
  • Kumpulkan, susun dan pilihlah kata kunci spesifik yang akan kita gunakan dalam mencari sumber belajar. Maraknya situs sampah akhir-akhir ini membuat proses pencarian menjadi sulit ditemukan maka hindarilah menggunakan kata kunci umum untuk mencari suatu sumber belajar.
  • Belajar dan buatlah blog sebagai salah satu catatan untuk menyimpan arsip-arsip dan atau sebagai administrasi dalam menjalankan profesi guru. Pengarsipan administrasi dalam bentuk hardcopy memiliki banyak kelemahan, diantaranya; a) memerlukan tempat yang relatif luas, b) sulit dan lama jika ingin membuka-buka arsip lama, c) Mudah hilang. Jika arsip tersebut disimpan pada media blog maka orang lain juga berkesempatan untuk membaca sebagai bahan kajian mereka ataupun sekedar referensi dan ikut membantu menemukan kekurangannya.
  • Bergabunglah di grup, forum atau milis guru sebagai sarana diskusi antar para pendidik. Dengan begitu guru akan mudah untuk menyampaikan masalah, pengalaman dan idenya selama menjalankan profesinya. Dan bahkan mampu membuka wawasan guru tentang dunia pendidikan secara luas ketika terhubung dengan guru-guru lain yang datang dari berbagai latar permasalahan dan pengalaman.
  • Buatlah review untuk siswa terhadap suatu situs yang pernah guru kunjungi. Hal ini sangat bermanfaat bagi guru atau pun siswa dalam belajar suatu materi yang mungkin saja hal itu sangatlah sulit untuk disampaikan dikelas dan hanya mampu dijabarkan melalui penelitian siswa sendiri dengan referensi yang kita berikan melalui review situs yang guru berikan.
  • Buatlah grup khusus mata pelajaran yang guru ajarkan sebagai sarana diskusi bersama, hal ini untuk memfasilitasi bagi siswa-siswa yang sulit mengungkapkan permasalahnya secara langsung melalui pertanyaan dikelas atau untuk menyelesaikan pertanyaan dan atau masalah yang kemudian ditemukan ketika para siswa belajar diluar kelas.
  • Manfaatkan kelebihan jejaring sosial (facebook, twitter, youtube, dll) sebagai sarana memperluas dan mengkoneksikan isu-isu pembelajaran penting yang pada pertemua  tatap muka akan di bahas secara spesifik.

Sumber : Jardiknas

Rudy DM